Menguasai Panas Hati

Ketika SMP, saya pernah gagal menguasai panas hati yang timbul karena hal yang sepele. Hanya karena satu tindakan yang tidak menyenangkan, saya berniat mencelakai teman dekat saya ketika kami bersepeda beriringan. “Kalau saya tabrak rodanya, dia pasti jatuh, t’rus saya hanya perlu menyiapkan alasan tidak sengaja, ” gumam saya. Saya pun menjalankan niat jelek tersebut, tetapi gagal total karena malah saya sendiri yang terjatuh dan mengalami luka-luka.

Kain juga mengalami panas hati setelah gagal menerima kenyataan soal persembahan yang ditolak Allah. Meski Allah lantas memperingatkan agar Kain tidak berbuat dosa, tetapi Kain lebih menuruti panas hatinya daripada mencoba mengatasinya. Pilihan yang membuat Kain menjadi pelaku kejahatan pertama, yang dilakukannya terhadap Habel, adiknya sendiri. Alhasil, hukuman dari Allah pun harus dijalani oleh Kain (ay. 10-12). Seandainya Kain menuruti nasihat dari Allah, niscaya kisah yang tercatat di Alkitab akan berbeda.

Ketika Allah berkata kepada Kain, “Engkau harus berkuasa atasnya (dosa yang menggoda), ” sesungguhnya dalam peringatan itu ada kebenaran yang tersembunyi. Allah menghendaki umat-Nya dapat menguasai diri, manakala panas hati melanda, juga menang atas godaan dosa, dengan kasih karunia-Nya. Mengabaikan kebenaran ini dapat menempatkan orang percaya dalam bahaya, karena kegagalan mengalahkan godaan dosa ketika panas hati melanda. Bagaimana kondisi hati kita saat ini? Apakah masih ada sisa panas hati yang perlu kita bereskan segera? –GHJ/www.renunganharian.net

KETIKA PANAS HATI MELANDA, BERUSAHALAH MENGUASAINYA,
JANGAN SAMPAI DIKUASAI!