Menguasai Diri

Ahasyweros adalah raja Persia yang menguasai 127 daerah, dari India sampai Etiopia, meliputi tiga benua: Asia, Afrika dan Eropa. Ia memerintah dari tahun 486-465 SM, menggantikan ayahnya, Darius. Saat itu, Persia menjadi kerajaan terkuat, setelah menaklukkan Babel di tahun 539 SM. Untuk “memamerkan kekayaan kemuliaan kerajaannya dan keindahan kebesarannya yang bersemarak” (ay. 4), Ahasyweros menggelar pesta bagi semua pembesar dan para pemimpin daerah, selama 6 bulan. Dilanjutkan dengan pesta selama seminggu bagi seluruh rakyat di benteng Susan (ay. 5).

Ironisnya, sekalipun secara politis sang raja memerintah atas wilayah dan penduduk yang sangat besar, ia gagal menguasai dirinya. Di hari terakhir perjamuan itu, ia dikuasai anggur alias mabuk (ay. 10). Lalu ia meminta agar Ratu Wasti, istrinya yang sangat elok rupanya, dipamerkan di hadapan semua orang (ay. 11). Di luar dugaannya, sang ratu menolak. Hal ini membuat sang raja murka, lalu mengeluarkan undang-undang yang tidak dapat dicabut kembali: sang ratu dilarang bertemu raja selamanya dan posisinya sebagai ratu dicabut dan digantikan orang lain (ay. 19). Satu keputusan yang akhirnya ia sesali (Est. 2:1).

Menguasai diri bukanlah perkara mudah, sebab banyak hal yang dapat membuat kita lepas kendali. Syukurnya, Roh Allah menolong kita untuk menguasai diri (Gal. 5:23), sehingga kita dapat bertindak dengan bijaksana. Tentu saja, kita juga perlu melatih diri kita dan menguasainya, agar kita menggunakannya untuk memuliakan nama Tuhan. –HT/www.renunganharian.net

ORANG YANG MENGUASAI DIRINYA,
MELEBIHI ORANG YANG MEREBUT KOTA.-AMSAL 16:32