Menghindari Éris

Kata “perselisihan” dalam bahasa Yunani menggunakan kata “éris” yang berarti berselisih, bertengkar dan cekcok. Menurut definisi ini, kita dapat mengerti bahwa kemungkinan besar orang-orang yang gemar berselisih, beradu pendapat secara tajam, hingga berkelahi secara fisik, sedang merasa bahwa diri mereka sedang bertanding atau berperang untuk memperebutkan sesuatu.

Saat menulis surat kepada jemaat Korintus, Paulus menegaskan keprihatinannya mengenai cara hidup jemaat yang masih terbilang duniawi. Adanya iri hati dan perselisihan menjadi dua hal menyolok yang berhasil diidentifikasi oleh Paulus. Dua perkara yang tampaknya dipicu oleh kebanggaan kelompok, karena merasa bahwa kelompok tertentu yang paling baik. Itulah sebabnya, Paulus dengan tegas mengatakan bahwa apa yang mereka alami semata-mata karena pertumbuhan rohani yang Allah kerjakan. Tugas Paulus maupun Apolos hanyalah seperti orang yang menanam dan menyiram, dimana masing-masing memiliki peranan dan upah yang kelak akan Allah berikan. Adanya perselisihan menandakan mereka juga belum memahami akan perkara ini, sehingga terjadi “perebutan” pengaruh di antara mereka.

Semakin dewasa kerohanian seseorang, seharusnya akan semakin bijak dalam merespons segala godaan iri hati maupun perselisihan. Segala sesuatu dapat dibicarakan dengan baik, lalu dicari solusinya bersama-sama, dengan memohon hikmat dan pertolongan Tuhan. Dengan demikian, perselisihan seharusnya menjadi perkara yang paling dihindari demi kebaikan bersama. –GHJ/www.renunganharian.net

DALAM PERSELISIHAN, BIASANYA ADA KEPENTINGAN PRIBADI
YANG HENDAK DITONJOLKAN.