Menghibur atau Menghakimi

Ketika seorang sahabatnya mengalami keterpurukan, ia datang memberikan wejangan hikmat. Ia mengingatkan sahabatnya bahwa Allah adalah Bapa yang baik yang akan membimbing anak-anak-Nya. Tidak ada yang dapat diandalkan di luar Allah. Inilah yang dilakukan Elifas kepada Ayub pada saat Ayub mengalami keterpurukan.

Isi wejangan Elifas tidak salah. Tidak salah pula mengingatkan janji pemulihan dari Allah kepada orang yang tengah mengalami pergumulan. Sebab, bukankah Ayub pun bukan manusia sempurna? Ia perlu dukungan, perlu diingatkan dan dikuatkan. Namun sayangnya Elifas bertindak layaknya pribadi yang paling sempurna dihadapan Ayub. Wejangannya lebih mengarah kepada penghakiman alih-alih penghiburan. Elifas menekankan bahwa sekalipun Ayub beriman kepada Allah, ia tetaplah berdosa. Karena itu kesukaran Ayub timbul sebagai buah dari dosanya sendiri.

Ketika seorang saudara atau orang di sekitar mengalami pergumulan, tak jarang kita menempatkan diri di posisi Elifas. Maksud hati memberi penghiburan, namun cara kita kebablasan dengan melakukan penghakiman. Kita merasa sempurna dan menganggap mereka yang sedang dalam penderitaan sebagai obyek yang pantas untuk digurui. Padahal, bukankah sekalipun penderitaan sering disebabkan oleh karena dosa, tidak menutup kemungkinan hal itu terjadi karena berbagai faktor lain? Tuhan senang kita hadir di tengah penderitaan sesama, namun bukan untuk menempatkan diri sebagai hakim. Jadikan kehadiran kita penghiburan yang menguatkan, bukan malah menambah beban. –EBL/www.renunganharian.net

MENGHAKIMI SESAMA YANG TENGAH MENDERITA
SEUMPAMA MENGUCURKAN CUKA PADA LUKA.