Menghargai Orang Lain

Orang senang berdekatan dengannya. Tutur katanya lembut dan penuh perhatian. Tidak terdengar dia menyerang atau merendahkan orang lain. Juga, tidak pernah dia menjadikan orang lain sebagai bahan gurauan. Dia justru senang mendukung dan menghargai. Orang merasa terhibur dan lebih bersemangat olehnya. Tidak banyak orang seperti dia yang belajar mengendalikan lidahnya dan lebih banyak melontarkan kata-kata positif.

Yakobus memberi nasihat soal perkataan. Cara kita menggunakan lidah sering tidaklah bijaksana. Lidah yang tampak kecil ternyata memiliki kekuatan besar. Bagaikan kemudi kecil pada kapal besar, demikianlah kekuatan lidah dalam hidup kita (ay. 4). Namun daya rusaknya pun dahsyat, laksana api kecil yang sanggup membakar habis hutan (ay. 5). Manusia sulit mengendalikannya. Yakobus pun mengemukakan sebuah pertentangan yang tidak masuk akal. Bagaimana mungkin kita memuji Tuhan sambil menghina orang yang Tuhan ciptakan (ay. 9)? Selaras dengan pemikiran Yakobus, kita seharusnya menghormati Tuhan dengan menghargai sesama melalui perkataan kita.

Mari gunakan kata-kata penghargaan kepada orang lain. Kata-kata yang mendukung dan menyemangati niscaya lebih bermanfaat dan mendorong orang menjadi lebih baik. Dengan berbuat demikian, selaras pula sikap kita antara memuja Tuhan dengan menghargai ciptaan-Nya. Untuk itu, sangat perlu kita berlatih agar mampu mengendalikan diri sepenuhnya (Ams. 16:32). –HEM/www.renunganharian.net

KIRANYA KITA DAPAT MENGGUNAKAN KATA-KATA KITA
UNTUK MEMBANGUN DAN MENGHARGAI SESAMA KITA.