Menghancurkan untuk Membangun

Alih-alih memberi uang jaminan untuk menebus anaknya, seorang ayah mendukung tindakan polisi yang menangkap dan memenjarakannya. Bukan karena sang ayah membenci anaknya. Sebaliknya, sang ayah sangat mengasihi anaknya. Karena kasihnya sang ayah ingin anaknya bertanggung jawab atas perbuatannya, serta bertobat dari kebiasaannya mencuri dan mencopet.

Ketika Yeremia meminta Allah menghukum dengan berat umat yang meninggalkan-Nya, Allah melakukannya. Apa motivasi-Nya? Bukankah Allah Maha Pengampun dan penuh kasih? Mungkinkah Allah lebih mengasihi Yeremia lantas mengabaikan umat-Nya yang lain? Tidak demikian! Oleh karena kasih-Nya itulah Allah memberikan penghukuman kepada umat-Nya yang tidak setia. Hukuman yang diberikan-Nya itu tidak didasari kebencian untuk membinasakan, melainkan didikan untuk mengajak umat bertobat. Terbukti Allah pun menyayangi tetangga Israel yang jahat. Allah memberi kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan beroleh keselamatan di dalam Dia jika mereka mau mendengarkan-Nya (bdk. ay. 15-16). Terlebih lagi kepada umat pilihan-Nya.

Disiplin Ilahi bukan berarti Dia tidak memberkati. Pergumulan yang sering kita sebut sebagai penghukuman bukan karena Dia ingin membinasakan. Ketika hal itu terjadi, ingatlah bahwa Tuhan tidak sedang menghancurkan kita, melainkan dosa-dosa kita. Sebab tidaklah mungkin Dia membangun kita menjadi bejana-Nya di atas dosa dan pelanggaran kita. Kita adalah buah hati-Nya. Dia membangun kita untuk menjadi alat anugerah-Nya, bukan sebaliknya. –EBL/www.renunganharian.net

SEPERTI TUKANG MEROBOHKAN BANGUNAN LAMA SEBELUM MENDIRIKAN YANG BARU,
DEMIKIAN ALLAH MENGHANCURKAN DOSA UNTUK MEMBANGUN UMAT-NYA.