Menghadapi Penolakan

Ditolak itu rasanya tidak enak: menyakitkan, mengecewakan, mengerdilkan semangat, membuat malu, tersinggung dan marah. Para agen pemasaran sangat mengerti hal ini. Tetapi saya yakin, semua orang pasti pernah menghadapi penolakan dalam kadar yang berbeda-beda.

Dalam catatan Alkitab, Yesus berkali-kali menghadapi penolakan. Salah satunya adalah nas ini, di mana Dia mengirim beberapa utusan ke salah satu desa di Samaria agar mereka menyambut kehadiran-Nya. Mereka menolak Yesus, karena mereka tahu bahwa tujuan-Nya yang sebenarnya ialah Yerusalem (ay. 53). Ada warisan sejarah yang memisahkan Israel dan Samaria. Orang Israel memandang hina orang Samaria karena mereka tidak setia kepada Tuhan, melainkan berbaur dengan bangsa-bangsa lain dan turut menyembah berhala mereka (bdk. 2Raj. 17:24-41). Sebaliknya, orang Samaria membenci orang Israel. Sikap permusuhan ini diturunkan dari generasi ke generasi (Yoh. 4:9b).

Menyikapi penolakan ini, Yakobus dan Yohanes murka. Mereka tidak rela Guru mereka diperlakukan demikian. Mereka meminta restu dari Yesus agar api turun dari langit untuk membinasakan mereka. Tetapi Yesus justru menegur mereka. Dia tidak menginginkan kehancuran atau kebinasaan orang Samaria, melainkan agar mereka mengalami kasih-Nya dan diselamatkan. Bahkan setelah kebangkitan-Nya, Dia ingin agar murid-murid-Nya juga bersaksi di Samaria (Kis. 1:8). Ini adalah satu bukti kasih yang besar, yang perlu ditunjukkan bahkan kepada mereka yang menolak kehadiran kita. –HT/www.renunganharian.net

KITA SEDANG MENELADANI KRISTUS KETIKA
KITA BERHASIL MENGHADAPI PENOLAKAN DENGAN KASIH.