Mengecap Air Pahit

Saya pernah merasa tak nyaman ketika pada musim kemarau, mendadak air sumur mengeluarkan air yang agak keruh, dan jika dikecap terasa agak pahit. Sampai sekarang kami tak paham mengapa hal itu bisa terjadi. Karena terbiasa menikmati air jernih dan segar, kondisi itu tentu cukup mengganggu dan agak mengkhawatirkan. Puji Tuhan ketidaknyamanan itu tak berlangsung lama. Entah karena apa, mendadak air sumur itu kembali bersih, jernih, dan tidak pahit lagi!

Sejak semula Tuhan tidak mendesain mulut manusia untuk mengucapkan hal-hal yang jahat, memaki, berkata-kata kotor, atau mengutuki orang lain-ibarat sumber air yang mengeluarkan air yang pahit. Kita pun pastinya merasa tak nyaman, risih, bahkan marah jika menjadi sasaran dari perkataan semacam itu, bukan? Oleh karena itu, hendaknya kita pun perlu berhati-hati agar jangan sampai ucapan kita memahitkan hati orang yang mendengarnya. Sering-seringlah mengevaluasi apa yang kita dengar dan terima lewat mata dan telinga, karena semua itu akan masuk ke dalam hati, memengaruhi pikiran kita, lalu berbuah lewat ucapan kita. Isi perkataan kita adalah cerminan dari isi hati. Surat Yakobus juga menegaskan bahwa ibadah tanpa mengekang lidah akan menjadi sia-sia (Yak. 1:26).

Bagaimana dengan isi perkataan kita? Adakah kita cenderung mengucapkan perkataan yang memahitkan? Bagi kita yang masih bergumul dengan perkataan, mintalah Roh-Nya menolong kita supaya perkataan kita menjadi seperti air yang menyegarkan dan memberi kehidupan, bukan yang memahitkan! –GHJ/www.renunganharian.net

PERKATAAN YANG MEMAHITKAN TAKKAN PERNAH
JADI BERKAT BAGI YANG MENDENGARNYA.