Mengasihi Musuh seperti Daud

Dalam relasi antarsesama, tak jarang ada orang-orang yang seharusnya berdekatan tetapi terkadang justru bermusuhan. Ada kakak memusuhi adiknya, menantu tidak akur dengan mertua, atau ketidakcocokan dengan kerabat di keluarga besar. Hari ini kita membaca pula mengenai ketidakakuran, bahkan permusuhan yang terjadi antara Saul dan Daud. Saul yang dipicu oleh iri hati berniat membunuh Daud, tetapi Daud justru merespons dengan berbuat kasih.

Jika seharusnya ada relasi yang baik antara mertua dan menantu, tak begitu yang terjadi antara Saul dan Daud. Amarah yang tak terkendali membuat Saul tega memburu Daud seperti seorang yang memburu musuh abadinya. Masalah yang diawali dari perkara yang sepele, ketika Saul mendengar nyanyian yang berisi pujian terhadap kehebatan Daud yang dianggap lebih hebat dari Saul (1Sam. 18:6-9). Namun hebatnya, ketika ada kesempatan membalas, Daud tak mempergunakan kesempatan itu. Ia hanya berani memotong punca jubah Saul. Itu pun sudah membuatnya berdebar-debar (ay. 5-6). Itulah yang mengherankan Saul, sehingga akhirnya ia menyadari kesalahan yang timbul dari kejahatan hatinya. Tindakan kasih Daud tak hanya membuat hati Saul tersentuh, bahkan ia mendoakan kebaikan untuk Daud (ay. 20).

Dalam relasi dengan sesama, terutama mereka yang menimbulkan ketidaknyamanan bagi kita, jangan biarkan diri kita dikendalikan oleh sikap mereka, sehingga kita tak dapat menyatakan kasih. Tirulah cara Daud dalam mengasihi Saul, supaya Tuhan dapat memakai hidup kita untuk berbagi kasih kepada sesama. –GHJ/www.renunganharian.net

DALAM MENGASIHI ORANG LAIN,
TERKADANG DIPERLUKAN KESEDIAAN UNTUK BERKORBAN.