Menganggap Diri Pandai

Semasa masih sekolah, berbekal nilai matematika yang cenderung bagus, di atas 7, saya pernah merasa cukup pandai. Alhasil, saya lengah dan tidak belajar serius menghadapi ujian nasional saat kelas 3 SMA. Hasilnya, nilai ujian nasional saya jeblok hingga di bawah 5! Ketika itulah, saya baru menyadari kesalahan fatal yang saya perbuat, yang dimulai dari sikap hati yang sepele … merasa diri pandai. Pelajaran yang sungguh berharga yang sedapat mungkin saya berusaha agar tidak mengulanginya.

Dalam godaan merasa diri pandai, sebenarnya terdapat semacam jebakan. Jika seseorang terkena jebakannya, minimal ada dua hal yang akan dialami: Pertama, perkembangan dalam dirinya akan mulai stagnan, lalu berjalan mundur. Ya, orang yang merasa diri pandai biasanya tak lagi mau belajar, enggan menerima koreksi, bahkan bisa melawan ketika ada yang mengkritik dan memberinya masukan. Kedua, mulai tertinggal dari orang lain. Ketika hidup kita mengalami stagnasi, orang lain akan lebih mudah mengungguli dan menjadi lebih baik. Kita pun akan sukar mengejar ketertinggalan, sebelum berhenti merasa diri pandai, mulai belajar lagi, dan berusaha mengejar ketertinggalan itu.

Sejatinya manusia perlu terus berkembang dalam banyak hal, supaya grafik hidupnya tidak bergerak mundur dan ia mulai tertinggal oleh laju perubahan dan perkembangan zaman. Merasa diri pandai adalah “cara tercepat” untuk mengawali ketertinggalan dan keterpurukan dalam hidup kita, yang sebaiknya dijauhkan dari dalam diri kita, sampai kapan pun! –GHJ/www.renunganharian.net

MERASA DIRI PANDAI ADALAH AWAL DARI
KEGAGALAN DAN KEMUNDURAN DALAM HIDUP.