Menerima Semua Orang

Dalam banyak budaya para pelaku kejahatan cenderung dijauhi dan dikucilkan. Dalam budaya Yahudi misalnya para pezinah yang tertangkap basah harus dihukum mati dengan cara dirajam batu. Itulah yang harus dijalani perempuan di zaman Yesus yang tertangkap basah berzinah.

Saat Yesus diperhadapkan pada kasus perempuan yang kedapatan berzinah itu, Ia justru melakukan hal sebaliknya. Ia tak menghukumnya melainkan membelanya. Ia memanusiakan perempuan itu dengan memberinya kepercayaan melanjutkan hidup sebagai orang yang lebih baik. Dituliskan bahwa Ia bangkit berdiri dan berkata kepada perempuan itu: “Hai Ibu, di manakah mereka? Tidak adakah seorang pun yang menghukum engkau?” Jawabnya, “Tidak ada, Tuan.” Lalu kata Yesus, “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan mulai sekarang, jangan berbuat dosa lagi” (ay. 10b-11). Yesus tahu perempuan itu berdosa, namun Yesus paham bahwa yang dibutuhkan perempuan ini bukanlah ancaman, penghakiman/penghukuman, melainkan penerimaan, pengampunan, kepercayaan dan kesempatan untuk hidup lebih baik.

Penerimaan Yesus yang menumbuhkan semangat dan rasa percaya diri perempuan ini harusnya menjadi bagian dari hidup kita. Hidup yang menghargai dan menerima keberadaan orang-orang di sekitar kita, termasuk mereka yang dianggap pendosa. Agar mereka yang terperangkap dengan citra diri yang negatif bisa mengalami pemulihan. Menolong mereka menjadi pribadi yang menerima diri sendiri dan orang lain. Sehingga masa depan mereka yang tadinya gelap berubah menjadi terang dengan semangat dan harapan yang baru. –LL/www.renunganharian.net

YESUS PRIBADI YANG MAU MENERIMA DAN MEMAHAMI KITA ORANG BERDOSA,
MAKA KITA PUN HARUS MENERIMA SIAPA PUN.