Mendengar

Dunia panggung hiburan berlomba dalam hal kecanggihan teknik pengeras suara. Dunia tarik suara menjadi ikon pentas pencarian bakat. Dunia politik dipenuhi intrik demi memenangkan pemungutan suara dalam pemilihan pejabat. Bisnis hiburan mengemas suara-suara sumbang sebagai komoditi dagangannya. Serba suara. Boleh dikata, dunia kita ini dunia suara. Gaduh. Bising. Suara-suara saling bersaing dan bertanding. Akibatnya, mendengar sudah menjadi tindakan konsumtif: orang memilih apa yang ingin didengarnya.

Habitat Yohanes adalah padang gurun. Jauh dari kebisingan. Sunyi. Namun, dari situlah justru terdengar suara yang dibutuhkan orang, bukan yang diinginkan saja. Suara yang mengajak orang berbalik kepada Allah (ay. 4). Suara dari kesunyian. Suara kebenaran. Dalam kenyataan kebenaran memang sering berseru-seru dari padang sunyi. Mengapa? Sebab di tengah dunia bising, orang tak memberi tempat baginya. Manusia hanya mau mendengar suara yang memuaskan telinganya (2Tim. 4:3).

Melalui masa Adven dan sosok Yohanes Pembaptis, kita diingatkan untuk mengasah pendengaran kita. Bukan memanjakannya. Jangan jadikan mendengar sebagai tindakan konsumtif. Mendengar adalah tindakan edukatif (belajar). Kebenaran tak selalu nyaman di telinga, namun kita memerlukannya. Biarlah di tengah dunia ingar bingar telinga kita tetap peka mendengar suara-Nya, suara kebenaran. –PAD/www.renunganharian.net

UNTUK MENDENGAR APA YANG BENAR DIPERLUKAN
KERENDAHAN HATI DAN KESEDIAAN UNTUK BELAJAR.