Memilih untuk Tidak Takut

Tugas besar menanti Salomo: memerintah negeri, membangun Bait Suci. Tetapi, tak seorang pun tahu apakah nanti-sepeninggal Daud-simpul-simpul politik di Israel akan mendukungnya. Belum lagi, kudeta adalah hal yang tak asing dalam keluarga Daud. Bagi Salomo muda yang belum berpengalaman, semua itu pasti menakutkan, dan bisa memengaruhi prioritasnya. Melihat hal serius itu, Daud berpesan, “Janganlah takut dan janganlah tawar hati, sebab TUHAN Allah, Allahku, menyertai engkau” (ay. 20).

Rasa takut pada hal tertentu: takut kehilangan kedudukan, takut tidak kebagian proyek, takut hidup susah, takut tidak mendapat jodoh, takut ditinggalkan teman, dll. Hal itu dapat menggerus iman dan menggeser prioritas kita, dari hidup yang meninggikan nilai, menjadi hidup yang membelakangi nilai; dari menghidupi kebenaran, menjadi pemanjaan hasrat yang menafikan kebenaran. Celakanya, kita tak selalu bisa menghindari hal-hal menakutkan seperti itu.

Meski demikian, jika kita mau, kita bisa mengubah sikap kita: dari selalu diperbudak oleh rasa takut, menjadi berani menghadapi hal-hal dan konsekuensi yang menakutkan. Jika kita mau, kita bisa memilih untuk tidak takut. Itulah maksud pesan Daud kepada Salomo.

Itu bukan soal agar hidup menjadi mudah, melainkan soal tekad untuk memilih hidup yang bernilai: bertahan pada kebenaran, dan rela memikul konsekuensinya. Mengapa? Karena ada hal yang lebih besar dan lebih penting ketimbang rasa takut itu, yakni hidup yang bernilai, hidup yang berkenan di hadapan Tuhan. –EE/www.renunganharian.net

KEBERANIAN BUKANLAH TIADANYA RASA TAKUT, MELAINKAN KETETAPAN HATI
ADA HAL LAIN YANG JAUH LEBIH PENTING DARIPADA RASA TAKUT.-AMBROSE REDMOON