MEMBERSIHKAN NAMA BAIK

Seorang teman mengeluh pada kakak saya, “Adikmu berbicara buruk tentangku!” Saya kaget karena tidak pernah berkata demikian. “Ia mendengar dari si A,” kata kakak. Saya lalu menjelaskan ke teman itu kalau saya benar-benar tidak mengatakannya. Saya juga menghubungi si A dan memarahinya.

Setelah sembuh dari kustanya, Naaman kembali menemui Elisa untuk berterima kasih dengan membawa pemberian. Elisa menolak, tetapi Gehazi, hambanya, menyayangkan pemberian itu (ay. 15-20). Gehazi tahu ia tidak mungkin memintanya dari Naaman. Gehazi lalu mendapat ide. Dengan menggunakan nama tuannya dan skenario buatannya sendiri, ia mengejar Naaman untuk meminta sedikit pemberian itu (ay. 21-23). Elisa, yang begitu dekat dengan Allah, mengetahui apa yang terjadi. Menariknya, tidak tercatat Elisa berlari-lari mengejar Naaman dan berkata, “Saya tidak menyuruh Gehazi memintanya!” Elisa justru segera memperingatkan Gehazi atas kesalahannya. Mungkin Naaman tidak pernah mengetahui kebenaran ini. Mungkin saja ia juga berpikir kalau Elisa adalah orang yang plin-plan. Rupanya, daripada membersihkan nama baiknya, Elisa lebih tertarik membersihkan hati Gehazi dari dosa (ay. 25-27).

Setiap orang pasti tidak ingin namanya disalahgunakan, apalagi untuk hal buruk yang merugikan. Namun, jika saat ini ada yang sengaja memburukkan nama kita, kita tidak perlu khawatir. Mengapa? Karena Tuhan sanggup memulihkannya! Lebih dari menjaga nama baik, mari menjaga kehidupan ini agar berkenan di hadapan Allah.

—LIN/www.renunganharian.net
SEKALIPUN DITEMPATKAN DALAM LUMPUR FITNAH DAN CELAAN,
ORANG-ORANG BENAR AKAN TETAP MENYINARKAN KEMULIAAN TUHAN