Memanfaatkan Kesempatan

Petrus beberapa kali menyalahgunakan kesempatan hidupnya. Ia bermulut besar dengan mengatakan bahwa imannya tidak akan pernah terguncang (Mat. 26:33). Ia menggunakan waktu di taman Getsemani untuk tidur alih-alih berdoa dan berjaga-jaga seperti yang Yesus harapkan. Ia menghunuskan pedang saat Yesus hendak ditangkap, seakan-akan hal itu adalah tindakan yang tepat dan hebat. Mungkin ia berpikir itulah saatnya membuktikan diri bahwa ia rela mati bagi Sang Guru. Sayang, ia keliru. Ia mengikuti Yesus saat Ia ditangkap. Namun alih-alih menemani dan memberi pembelaan, ia menyangkal Yesus.

Kegagalan Petrus dalam mempergunakan kesempatan hidupnya terjadi karena ia tidak siap dengan konsekuensi atas ucapannya sendiri. Ia terlalu percaya diri, namun takut pada penderitaan. Ia tidak memegang komitmen karena tidak memahami misi Yesus. Ia berharap Yesus tampil sebagai pahlawan menurut alur pikirannya. Karena itu peristiwa penangkapan Yesus membuatnya tergagap. Beruntung Petrus mempergunakan kesempatan berikutnya sebagai titik balik. Ia bertobat dan menjalani hidup benar sebagai saksi Kristus.

Haruskah kita menyalahgunakan kesempatan sebelum bertobat pada akhirnya? Bagaimana jika tidak ada kesempatan lagi? Terlebih mengingat hidup kita hanya satu kali dan waktu tidak akan pernah terulang. Jika kesempatan telah berlalu, menyesal pun tiada guna. Menangis, meratap, bersedih dan mengutuki diri sendiri pun tidak akan membuat keadaan berbalik. Daripada menunda lebih baik segera berbalik kepada-Nya. –EBL/www.renunganharian.net

GUNAKAN KESEMPATAN KETIKA IA NAMPAK DI HADAPANMU,
KARENA IA DATANG BAGAI AWAN BERLALU.