Memandang Sebelah Mata

Ada petuah berujar, “Belajarlah untuk menghargai kepunyaanmu sebab selalu ada seseorang di luar sana yang sangat berharap dapat memilikinya seperti dirimu. Jangan sampai kelak engkau dipaksa untuk menghargainya tatkala itu sudah bukan milikmu lagi.” Nasihat ini sungguh mencerminkan apa yang dialami oleh tokoh Alkitab bernama Esau. Kenapa begitu?

Sebagai putra sulung, ia memiliki hak kesulungan yang memberinya keistimewaan berupa berkat anak sulung yang kelak pasti diwariskan oleh sang ayah kepadanya (Kej. 27:1-4). Tetapi, sayangnya, Esau bersikap tak mengacuhkan haknya itu. Sementara Yakub, adik kembarnya, sangat mendambakannya. Sampai dicobanya cara yang menggelikan untuk “merebut” hak itu. Ditukar dengan semangkuk sup kacang merah (ay. 31-34). Konyolnya, Esau setuju dan mengukuhkan “transaksi” itu dengan sumpah! Kelak ketika berkat sulung itu benar-benar direbut darinya dan diberikan kepada Yakub, barulah Esau menangis keras karenanya (Kej. 27:34).

Hidup ini ialah seni sekaligus disiplin untuk menghargai apa yang ada pada kita, yang diijinkan Tuhan menjadi kepunyaan kita. Sebab tak selamanya itu ada pada kita. Jika kita terlalu sibuk mengejar apa yang tidak ada pada kita, akibatnya kita mengabaikannya, tidak melihat potensinya, bahkan memandangnya dengan sebelah mata. Padahal banyak karunia Tuhan tersimpan di situ dan menanti untuk kita hargai, syukuri, dan berdayakan. Jangan sampai pengalaman Esau terulang pada kita. –PAD/www.renunganharian.net

KETIKA KITA MENGEMBUSKAN SATU NAFAS KELUHAN, ADA ORANG LAIN YANG SEDANG
BERJUANG MENARIK NAFAS TERAKHIRNYA-HARGAILAH APA YANG TUHAN BERI.