Melimpah dengan Memberi

Ibu ini bukanlah orang kaya. Ia bahkan tidak punya simpanan di bank. Penghasilan pensiunnya ia gunakan untuk menghidupi diri secukupnya. Sisanya ia habiskan untuk membantu orang lain. Sering ia pergi memberitakan Injil atau mengunjungi orang sakit dengan uangnya sendiri. Namun setiap saya berjumpa dengannya, kata-kata penuh syukur yang terucap dari mulut bibirnya. “Tuhan mencurahkan berkat-Nya kepadaku, ” demikian selalu ia katakan. Saat dirawat di RS, banyak yang membantu untuk meringankan biaya pengobatannya. Ketika ia meninggal, banyak yang melayat dan menceritakan bagaimana mereka atau orang tua mereka mengenal Injil melalui ibu ini.

Semangat untuk memberi seperti itu pula yang memenuhi hati jemaat mula-mula. Mereka digerakkan oleh keharuan besar akan pengorbanan Yesus Kristus yang mengaruniakan nyawa-Nya sendiri. Kasih kepada sesama membuat mereka tidak menyayangi kepemilikan harta benda pribadi. Mereka saling berbagi, hidup sehati dan sejiwa (ay. 32). Ajaib, sekalipun mereka mempersembahkan kepemilikan, tidak seorang pun kekurangan.

Salah satu perwujudan kasih adalah memberi. Tidak ada keserakahan ataupun keegoisan. Dalam persekutuan orang-orang yang dipenuhi Roh Kudus, terjadi keseimbangan. Yang memberi tidak kekurangan dan yang menerima tidak berlebih. Bahkan semuanya dapat menikmati kelimpahan kasih karunia (ay. 34). Semangat saling berbagi itu jugalah yang perlu kita miliki selaku anggota tubuh Kristus. –HEM/www.renunganharian.net

KASIH KARUNIA KRISTUS MELIMPAH DALAM KUMPULAN ORANG PERCAYA
YANG SALING BERBAGI DAN MENGASIHI SATU DENGAN YANG LAIN.