Melayani yang Hina

Disa, seorang teman lama, membagikan kisahnya saat menemani seorang bapak yang selama ini dilayani di pondok yang khusus merawat orang-orang dengan gangguan kejiwaan. Terlihat tidak ada raut muka terpaksa atau ketidaksukaan, tetapi sukacita yang jelas terpancar. Panggilan Tuhan yang diterimanya beberapa tahun lalu, kini masih dikerjakannya bersama keluarga intinya. Belas kasihan Tuhan bekerja dalam dirinya, juga kasihnya kepada Tuhanlah yang memampukan Disa untuk bertahan dalam panggilan Allah dalam hidupnya.

Sungguh tidak mudah menjalani panggilan pelayanan yang kurang populer seperti Disa. Jika menyangkut bidang pelayanan gereja, biasanya jenis pelayanan yang tidak banyak tampil dan jarang disorot, cenderung sepi peminat. Terlebih jika menyangkut bidang pelayanan jiwa-jiwa yang dipandang hina atau tersingkir dari masyarakat. Belum tentu 3 dari 10 orang yang ditawari akan menganggukkan kepala dan segera terlibat dalam pelayanan. Namun, firman hari ini menegaskan pada akhir zaman nanti, pelayanan atau kebaikan terhadap orang-orang yang dianggap hina-dimana Tuhan sendiri rela “menyamakan” diri-Nya dengan mereka yang hina itu-akan sangat diperhitungkan oleh-Nya.

Jadi, seberapa antusiaskah kita jika mendapat kesempatan untuk berbuat baik atau melayani jiwa-jiwa yang sering dianggap hina, tidak dianggap, atau tersingkir? Dengan pengajaran firman ini, maukah kita merenungkan, lalu merespons dengan tepat ketika panggilan-Nya untuk melayani mereka yang hina bergema dalam hati kita? –Habakuk/www.renunganharian.net

MEREKA YANG DIANGGAP HINA OLEH MANUSIA,
BELUM TENTU DIANGGAP HINA OLEH TUHAN.