Melafalkan Hidup

Bagi banyak orang, bahasa asing itu urusan susah. Kaidahnya tak karib bagi pikiran, hingga banyak terabaikan, dan orang pun gagap berbahasa asing. Begitulah hidup ini menurut Christopher Morley. “Life is a foreign language; all men mispronounce it, ” kata Morley. Hidup adalah bahasa asing; semua orang salah melafalkannya.

Morley benar. Kita salah melafalkan hidup, gagap menjalani hidup. Kaidah hidup kita mengerti, tetapi kita tak karib dengannya. Hidup kita jadikan seperti bahasa asing yang kaidahnya tidak kita kenal. Kita tahu harus jujur, tetapi kejujuran kita nafikan; tahu harus hidup kudus, tetapi kekudusan kita lupakan; sadar harus hidup benar, tetapi kebenaran kita campakkan. Kita hidup, tetapi tak sungguh-sungguh hidup.

Peringatan-peringatan Tuhan (ay. 144), yakni firman-Nya, adalah kebenaran, kaidah bagi hidup yang sungguh hidup. Pemazmur, yang rindu hidup yang sungguh-sungguh hidup, memohon, “Buatlah aku mengerti, supaya aku hidup” (ay. 144). Artinya? Orang mengerti kebenaran hanya jika ia menghidupi kebenaran. Mengerti kebenaran tanpa menghidupi kebenaran adalah tak mengerti kebenaran. Mengerti kejujuran tetapi hidup tak jujur adalah tak mengerti kejujuran. Mengerti aturan tetapi mengabaikan aturan adalah tak tahu aturan. Namun, meski gagap bicara cinta, jika hidupnya dipenuhi karya cinta, orang sangat mengerti cinta.

Begitulah, mengerti kebenaran adalah menghidupi kebenaran sepanjang hidup. Dan, menghidupi kebenaran sepanjang hidup itulah hidup yang sungguh-sungguh hidup. –EE/www.renunganharian.net

MENGERTI KEBENARAN TANPA MENGHIDUPI KEBENARAN
ADALAH TIDAK MENGERTI KEBENARAN.