Mari dan Lihatlah

Huxley, seorang agnostik yang hidup di akhir abad 19 Masehi, hidup di suatu desa yang mayoritas penduduknya beragama Kristen. Setiap hari Minggu hampir seluruh warga desa pergi ke Gereja. Pada suatu hari Minggu Huxley mendekati seorang Kristen yang hendak pergi ke Gereja. Ia berkata: “Bagaimana kalau hari ini Anda tidak usah pergi ke Gereja, tetapi tinggal di rumah dan menceritakan kepadaku tentang makna iman Kristen dan mengapa anda menjadi orang Kristen? Saya tidak akan mendebat apa pun yang Anda sampaikan. Saya hanya ingin mendengar makna Kristus bagi Anda.”

Orang itu pun menuruti keinginan Huxley dan secara sederhana ia menceritakan imannya kepada Huxley. Ketika ia selesai berbicara, Huxley tiba-tiba menangis tersedu-sedu sambil berkata: “Aku akan ikut Anda kalau saja aku dapat percaya seperti Anda.”

Huxley terketuk hatinya dan menjadi percaya bukan karena argumentasi yang fasih dan pintar, karena yang menjelaskan makna iman Kristen kepadanya hanyalah orang dari desa tersebut. Yang mengetuk hati Huxley adalah cerita sederhana tentang Kristus itu sendiri. Argumentasi yang paling baik adalah “mari dan lihatlah.”

Hanya perjumpaan dengan Kristus yang mampu mengubah hati seseorang menjadi percaya kepada-Nya. Oleh karena itu “mari dan lihatlah!” Alamilah sendiri perjumpaan dengan Yesus seperti Natanael yang diubahkan hatinya ketika bertemu dengan Yesus. –JLO/www.renunganharian.net

PERJUMPAAN DENGAN YESUS ADALAH
MOMEN TERBAIK DALAM HIDUP SESEORANG.