Manusia Pemberi

Suatu hari, kira-kira jam tiga petang, malaikat Allah menampakkan diri kepada Kornelius (ay. 3). Malaikat itu memintanya menyuruh beberapa orang pergi ke Yope untuk menjemput seorang bernama Simon yang juga disebut Petrus (ay. 5). Tuhan hendak memakai Petrus sebagai alat-Nya untuk melawat Kornelius. Tercatat Kornelius dan keluarganya menjadi bangsa kafir pertama yang menerima kabar baik dan keselamatan setelah kebangkitan Yesus. Sungguh ini merupakan kasih karunia!

Mengapa Kornelius terpilih? Firman Tuhan mengemukakan alasannya melalui perkataan malaikat itu: “Semua doamu dan sedekahmu telah naik ke hadirat Allah dan Allah mengingat engkau” (ay. 4). Di sini dapat kita ketahui bahwa Kornelius-selain saleh dan baik hati-adalah manusia pemberi. Berkat Tuhan itu memang tidak dapat dibeli. Namun demikian, Tuhan suka mencurahkan berkat-Nya pada orang-orang yang murah hati.

Meneladani Kornelius, mari kita pun menjadi manusia pemberi! Mungkin kita berdalih tidak mempunyai kekayaan untuk dibagi. Sesungguhnya apa yang manusia pemberi butuhkan bukanlah harta, melainkan hati. Jika tidak ada uang dan barang-barang, kita bisa memberikan doa, senyuman, kata-kata penghiburan dan dorongan. Mudah, bukan? Sekarang kita tahu kita bisa melakukannya! Satu hal perlu kita ingat saat memberi adalah melakukannya dengan ketulusan hati. Mengapa? Sebab memberi dengan motivasi tersembunyi bukan ciri manusia pemberi yang asli! –LIN/www.renunganharian.net

MANUSIA PEMBERI TIDAK SELALU MEMPUNYAI BANYAK HARTA,
NAMUN DEMIKIAN, DALAM HATINYA SELALU ADA KASIH TERHADAP SESAMA MANUSIA.