Larilah ke Betel!

Dalam komunikasi antarkita, berlaku pemberian isyarat. Adakalanya berupa gerakan tubuh atau wajah, semisal kedipan mata. Atau suara, semisal nada bicara yang sengaja dibuat tinggi. Tak jarang pula berupa satu atau dua kata tertentu yang dapat memantik api kesadaran akan pesan yang sesungguhnya ingin disampaikan. Jika isyarat tertangkap, muncullah tanggapan yang tepat.

Bahaya sedang mengancam Yakub dan keluarganya. Perkosaan atas Dina, anak perempuannya semata wayang, telah melahirkan pembalasan berdarah oleh kakak-kakaknya (Kej. 34:1-31). Yakub sadar, genderang perang telah ditabuh. Setiap saat penduduk Kanaan bisa ganti menyerbu (Kej. 34:30). Tuhan memberi isyarat melalui kejadian di Betel dahulu kala, tatkala ia lari dari Esau (ay. 1). Artinya, sekarang pun Tuhan mau Yakub lari ke tempat yang sama, yakni Betel, mendirikan mezbah dan mencari Allah, Sang Penolong dalam kesesakan (ay. 3). Selanjutnya, Dialah yang bertindak melindungi (ay. 5). Yakub belajar, baik dahulu maupun sekarang dan masa mendatang, Tuhanlah tempat pengungsian atau pelariannya.

Tuhan punya beribu bahasa isyarat untuk kita. Bunyi lonceng gereja. Gema kidung pujian. Seruan mimbar. Rasa rindu. Kesulitan besar. Kebetulan-kebetulan yang aneh. Rasa sakit. Jalan buntu. Dan masih banyak lagi. Semuanya berfungsi “membunyikan lonceng” di ingatan kita untuk mencari pertolongan dan perlindungan hanya pada-Nya. –PAD/www.renunganharian.net

ALLAH ITU BAGI KITA TEMPAT PERLINDUNGAN DAN KEKUATAN,
SEBAGAI PENOLONG DALAM KESESAKAN SANGAT TERBUKTI.-MAZMUR 46:2