Komitmen Ibadah Keluarga

Ada beberapa kenangan manis semasa saya kanak-kanak. Hampir setiap malam, kecuali Sabtu dan Minggu, Ibu mengajak kami berkumpul untuk menghafal beberapa ayat Alkitab dan berdoa. Kadang Ibu membacakan cerita-cerita yang indah. Kebiasaan itu membuat saya mampu mengingat bagian Alkitab yang menghibur tatkala menghadapi tekanan hidup. Juga memberi arah ketika menghadapi dilema pengambilan keputusan.

Yosua bersama Kaleb tergolong generasi Israel yang lahir di Mesir. Mereka adalah saksi hidup peristiwa-peristiwa dahsyat penyelamatan TUHAN atas Israel melalui Musa. Pengalaman yang sangat berpengaruh itu membuat Yosua bersikap hormat dan setia kepada TUHAN. Yosua pun tidak bosan mengisahkan kebaikan TUHAN pada umat Israel. Saat ajal mendekat, Yosua bermaksud mewariskan sikapnya itu kepada umat yang dipimpinnya. Dengan lantang Yosua memproklamirkan bahwa andaipun Israel tidak beribadah kepada TUHAN, ia dan keluarga akan beribadah kepada TUHAN.

Ibadah dalam keluarga niscaya membuat keluarga memiliki kesatuan yang lebih erat. Mereka yang melakukannya punya daya tahan yang lebih besar terhadap tekanan dan pencobaan. Keluarga pun memiliki keberanian untuk mendorong orang lain beribadah kepada Tuhan. Namun agar rutin dilakukan, keluarga harus berjuang keras mewujudkannya. Keluarga juga wajib menerapkan titah Tuhan dalam hidup keseharian. Agar dengan demikian, iman diwariskan kepada keturunan sebagai harta yang bersifat kekal. –HEM/www.renunganharian.net

IBADAH DALAM KELUARGA MENGHADIRKAN KEKUATAN MENGHADAPI
TEKANAN DAN PENCOBAAN SERTA MENUMBUHKAN IMAN.