Ketetapan untuk Menyelamatkan

Patuh terhadap orang tua kadang terasa menjengkelkan bagi anak-anak. Sebab sering kali hal-hal yang dilarang orang tua adalah hal yang justru diminati anak-anak. Bermain gawai berlama-lama, pergi bermain tanpa mengenal waktu, atau menghindari jajanan tertentu. Anak-anak tidak mau peduli alasan orang tua melarang mereka, sekalipun hal itu dilakukan demi kebaikan si anak. Mereka menerjemahkan larangan sebagai tanda bahwa orang tua tidak sayang. Anak-anak baru akan menyadari kekeliruan mereka ketika akibat yang buruk terjadi.

Tak jarang kita bertingkah sama seperti anak-anak dihadapan Tuhan. Kita mengabaikan setiap ketetapan Tuhan bahkan menganggapnya sebagai belenggu yang membatasi ruang gerak. Kita mempertanyakan kemerdekaan hidup yang katanya Tuhan sediakan bagi orang percaya. Beruntung jika pergumulan dapat membuat kita sadar akan dosa dan kesalahan sehingga kita berbalik kepada Tuhan. Bukankah tidak jarang pergumulan berat ditanggapi dengan menghujat Tuhan bahkan meninggalkan-Nya?

Sebelum terjatuh pada pilihan yang keliru, mari kita sadari bahwa segala ketetapan Tuhan diberikan kepada umat sebagai wujud kasih-Nya bagi kita! Dengan mengorbankan Putra Tunggal-Nya: Yesus Kristus, Allah telah melakukan karya keselamatan yang memungkinkan manusia berdosa beroleh pemulihan hidup. Allah tidak rela jika manusia yang hidupnya telah dipulihkan ini kembali terperosok pada kubangan dosa. Karena itu ketetapan diberikan Tuhan untuk memagari umat yang telah diselamatkan-Nya itu dari godaan dosa. –EBL/www.renunganharian.net

ENGGAN MENGHIDUPI KETETAPAN TUHAN SAMA SAJA
MENYIA-NYIAKAN PENGORBANAN KRISTUS DI KAYU SALIB.