Kesetaraan

Perjumpaan dengan orang yang tepat adalah salah satu pendorong kemajuan kita. Pemenang Nobel Perdamaian 1952, Dr. Albert Schweitzer, berkata, “Ada saatnya, semangat kita pudar. Tetapi kemudian menyala kembali karena perjumpaan dengan seseorang. Betapa kita sepatutnya berterima kasih kepada orang-orang yang telah menghidupkan kembali jiwa kita itu.”

Tuhan menyiapkan perjumpaan antara Kornelius dan Petrus. Semua faktor- waktu, tempat, kejadian, pengalaman- ikut mendukung perjumpaan dua pribadi yang belum saling mengenal itu. Bahkan, sebelumnya Tuhan mengikis lebih dulu rasa superior Petrus (ay. 9-23a). Mengapa? Keduanya sudah harus dalam posisi setara. Kalau perlu, yang satu menegakkan yang lain seperti yang dilakukan oleh Petrus (ay. 26). Setara sebagai manusia. Saling menghormati dan mampu melihat kelebihan masing-masing. Begitulah ujung dari perjumpaan mereka. Bersatunya dua kubu kekristenan perdana- Yerusalem dan Kaisarea.

Tuhan itu Perancang ulung perjumpaan antarmanusia yang berbuah kemajuan. Syaratnya adalah kesetaraan. Bukan ketimpangan akibat kecongkakan, superioritas, dan penindasan. Harus sama-sama, serba saling. Saling menegakkan harga diri. Saling membangunkan kepercayaan diri. Saling mengangkat pujian, penghargaan dan rasa hormat. Saling memberi kesempatan. Saling percaya, ada kebaikan pada masing-masing. Kesetaraan adalah induk dari kemajuan bersama. Mengapa tak kita terapkan prinsip ini dalam kehidupan bersama kita-persahabatan, keluarga, masyarakat, dan gereja? –PAD/www.renunganharian.net

HUBUNGAN YANG TIMPANG MELAHIRKAN PENINDASAN;
HUBUNGAN YANG SETARA MEMBUAHKAN KEMAJUAN.