Kendalikan Ucapan Kita

Dalam keadaan terdesak, Raja Saul menyuruh rakyat Israel mengucapkan kutuk (ay. 24). Kata-kata kutukan itu diucapkan saat perang sedang berlangsung membuat rakyat berperang dalam keadaan letih, lesu, dan lapar. Yonatan yang tidak mendengar sumpah itu melanggar kutukan ayahnya dengan memakan madu di hutan. Nyawa Yonatan pun terancam. Perkataan kutuk yang telah diucapkan itu membuat Tuhan tidak mau berbicara terhadap umat-Nya (ay. 41). Dan bila rakyat tidak membela Yonatan, mungkin Raja Saul telah membunuh anaknya sendiri (ay. 37-45).

Dalam kehidupan sehari-hari, kutukan kadang-kadang bisa terucap bila kita tidak mampu mengendalikan kemarahan. Umumnya, perkataan kutukan yang kita ucapkan itu terlontar secara spontan, tidak dipikirkan masak-masak, tidak rasional, cenderung emosional, dan selalu bertujuan negatif. Siapa sasaran perkataan negatif kita? Bukankah mereka adalah anak-anak atau orang-orang yang ada di sekitar kita?

Tidak ada hal baik yang dihasilkan dari perkataan kita yang buruk. Karena itu dalam situasi yang tersulit sekalipun, belajarlah untuk mengendalikan hati dan perkataan kita. Dalam kondisi emosi yang tidak terkendali, kita acap kali mengucapkan perkataan yang negatif. Sumpah, atau kutukan, tidak hanya terdengar menyakitkan namun juga melemahkan semangat orang yang mendengarnya. Mari berdoa seperti Daud: “Awasilah mulutku, ya TUHAN, berjagalah pada pintu bibirku!” (Mzm. 141:3). –SYS/www.renunganharian.net

HIDUP DAN MATI DIKUASAI LIDAH, SIAPA SUKA MENGGEMAKANNYA,
AKAN MEMAKAN BUAHNYA.-AMSAL 18:21