Keluarga yang Diberkati

Keluarga bahagia dan diberkati Tuhan adalah dambaan semua orang. Keluarga di mana semua anggotanya saling mengasihi, menghargai dan bertanggung jawab satu sama lain. Bisa menyelesaikan masalah sesuai dengan kehendak Tuhan. Namun tak semua keluarga demikian.

Menurut pemazmur keluarga akan berbahagia jika kepala keluarga takut akan Tuhan. Kepala keluarga hidup menurut jalan Tuhan, bukan berdasarkan keinginannya sendiri atau pun menurut nasihat orang fasik. Ungkapan “berbahagialah” dalam ayat 1, diterjemahkan dari kata “esher”, yang dalam bahasa aslinya berarti “diberkatilah”. Pemazmur menyebutkan bahwa kepala keluarga yang takut Tuhan, keluarganya akan mendapat jaminan berkat. Apa saja yang dikerjakannya akan diberkati Tuhan sehingga ia dapat menikmati hasil keringatnya itu dengan penuh sukacita (ay. 2). Kiasan “seorang istri seperti pohon anggur yang subur” menggambarkan bahwa istrinya akan memberikan kesegaran, sukacita serta menjamin kesejahteraan seluruh anggota keluarga (ay. 3). Sementara, ungkapan “anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun di sekeliling mejamu” bermakna bahwa anak-anak kelak akan tumbuh kokoh, kuat serta memiliki kedekatan dengan orang tuanya. Anak-anak akan berbakti kepada orang tua. Kelak menjadi pengganti memberi perlindungan kepada orang tua (ay. 3).

Jadi ungkapan keluargaku surgaku bukanlah isapan jempol semata. Hal itu bisa terwujud dimulai dari kepala keluarga. Sebab kepala keluarga ibarat kemudi dalam perahu. Ketika kepala keluarga memberi hidupnya dikendalikan oleh Tuhan maka jaminan kebahagiaan dalam rumah tangga akan terwujud. –LL/www.renunganharian.net

KETIKA KELUARGA DIBANGUN DI ATAS DASAR TAKUT AKAN TUHAN
MAKA AKAN TERCIPTA “KELUARGAKU SURGAKU”.