Kegalauan Pengemudi Truk

Saya tergelitik membaca tulisan yang menempel di bak belakang truk, yang mungkin menjadi ungkapan kegalauan hati sang pengemudi: “Kalau aku susah kamu tertawakan, tetapi kalau senang kamu bicarakan di belakang. Lalu, aku harus bagaimana?” Jika mau direnungkan lebih dalam, tulisan bernada sindiran itu dapat mengevaluasi diri kita dalam menyikapi kehidupan ini. Terlebih apa yang disampaikan melalui pesan itu merupakan gambaran dari kehidupan nyata yang tak jauh dari kehidupan kita sehari-hari.

Membandingkan kalimat sindiran di atas dengan nasihat firman Tuhan yang kita baca hari ini akan semakin menarik. Firman-Nya menasihatkan agar orang percaya dapat bersukacita dengan orang yang bersukacita, juga berempati ketika ada orang yang menangis-bisa diterjemahkan juga sebagai kondisi susah, bergumul, kehilangan, ditimpa kedukaan. Sikap yang menjadi perwujudan dari hidup dalam kasih ini menjadi semakin “sempurna” jika dilakukan tanpa berpura-pura (dengan tulus), karena ada niat untuk melakukan hal yang baik (ay. 1). Pastinya tidak mudah melakukan hal ini karena mungkin sejak kecil kita dikelilingi oleh perilaku negatif, yang tanpa sadar menjadi bagian dari kehidupan kita.

Jadi bagaimana merespons kalimat sindiran di atas? Mari belajar ketika ada orang mengalami kesusahan, kita lakukan sesuatu dengan harapan setidaknya dapat meringankan beban dalam hati orang tersebut. Lalu, ketika orang lain bergembira atau bersukacita, tertawalah bersama dia, bahkan sesekali berikanlah hadiah kejutan. Bisa? –GHJ/www.renunganharian.net

KETIKA ORANG LAIN MERESPONS KEHIDUPAN DENGAN NEGATIF,
TETAPLAH MERESPONS DENGAN POSITIF!