Kedewasaan dan Kebijaksanaan

Kedewasaan sering kali dipandang hanya berdasarkan usia. Pandangan ini muncul karena anggapan bahwa dalam usia yang matang, dia akan menjadi pribadi yang dewasa, tenang dan bijaksana. Tetapi pada kenyataannya, usia tidak dapat menjamin kedewasaan seseorang.

Dalam pekerjaan pelayanan Titus, Paulus memintanya untuk juga hadir bagi sesamanya yang masih muda dan menasihati mereka untuk dapat menguasai diri mereka. Nasihat ini disampaikan dengan mengingat bahwa dalam budaya Yahudi, usia menjadi ukuran kedewasaan seseorang. Seseorang akan dianggap sebagai pribadi yang dewasa dan dihormati, apabila telah memasuki usia yang cukup. Sebaliknya, dia akan direndahkan apabila belum mencukupi usia dewasa. Melalui nasihatnya ini, Paulus hendak menunjukkan bahwa usia tidak menunjukkan kedewasaan seseorang. Akan tetapi, karakter seseoranglah yang dapat menunjukkan kedewasaannya.

Sikap tersebut terwujud dalam penguasaan diri, yang mengajak seseorang untuk tidak terbawa emosi sesaat dan terburu-buru dalam menyimpulkan sesuatu, melainkan selalu bersedia untuk mau mendengarkan dan melihat suatu hal terlebih dahulu. Dengan penguasaan diri, maka kedewasaan itu ditunjukkan.

Kedewasaan adalah sikap, yang harus ada dalam hidup kita. Dengan senantiasa berusaha untuk menguasai diri, maka kedewasaan itu akan mengalir dalam hidup kita. Karena kedewasaan itu bukan tujuan hidup yang harus ditunjukkan, melainkan sebuah sikap yang menjadi jalan hidup. –ZDP/www.renunganharian.net

KEDEWASAAN BUKAN UNTUK DIPERTONTONKAN,
MELAINKAN SEBUAH SIKAP HIDUP.