Kebodohan yang Melekat

Sebagian ayat di dalam Alkitab tidak dapat ditafsirkan secara harfiah, hanya dengan membaca teks yang tersurat. Namun, sebagai pembaca kita diminta untuk dapat memahami makna tersirat dari apa setiap rangkaian huruf yang kita baca di dalamnya. Salah satunya ketika Alkitab berbicara mengenai kebodohan, seperti nas renungan hari ini. Suatu pesan yang memiliki makna mendalam bagi kita yang mendapat pesan yang sangat berharga itu.

Kebodohan adalah perkara yang sulit dienyahkan dari dalam diri seseorang. Itulah yang hendak disampaikan oleh nas renungan hari ini. Sebelum orang itu sendiri menyadari akan kebodohannya, lalu melakukan sesuatu untuk mengatasi hal itu, maka tidak akan ada perubahan sama sekali. Kebodohan akan tetap melekat dalam diri orang tersebut, tidak akan lenyap, bahkan bisa dibawa sampai mati. Dampak dari kebodohan yang melekat biasanya tampak ketika seseorang melakukan hal-hal yang merugikan diri sendiri, misalnya berupa dosa atau kebiasaan buruk, tetapi tidak segera meninggalkan perbuatan itu. Alasannya, bisa jadi karena merasa nyaman, merasa senang atau bahagia (meskipun semu dan sesaat), dan mungkin karena mendapat keuntungan tertentu.

Adakah sampai hari ini masih jelas terdapat ciri-ciri “kebodohan yang melekat” dalam kehidupan kita? Seberapa ingin kita meninggalkannya, sekalipun prosesnya tidak mudah, bahkan penuh dengan risiko? Jika ingin kehidupan kita menjadi lebih baik, tak ada cara lain kecuali membuang kebodohan itu dan jangan pernah lagi bersentuhan dengannya! –GHJ/www.renunganharian.net

KEBODOHAN HANYA AKAN MEMBAWA KERUGIAN
DAN KEHANCURAN HIDUP. SEGERA TINGGALKAN!