Kaya di dalam Tuhan

Melihat seseorang mengendarai mobil mewah, dengan cepat orang memberikan komentar: “Wuih, orang kaya!” Begitu pula ketika melihat rumah besar nan megah berhalaman luas, atau melihat seseorang mengenakan banyak perhiasan di tubuhnya. Ya, dunia mengakui bahwa menjadi kaya berarti memiliki banyak harta.

Rasul Paulus pun mengajak jemaat di Korintus untuk menjadi kaya. Namun kekayaan yang diajarkan Rasul Paulus bukan dengan jalan menumpuk harta. Kekayaan yang harus dikejar oleh orang percaya adalah dengan menjadi kaya dalam iman. Iman menjadi dasar orang percaya untuk mendapat perkenan Allah. Dengan menjadi kaya di dalam iman orang percaya juga akan menjadi kaya dalam anugerah dan pekerjaan baik, yakni dalam perkataan, pengetahuan, kesungguhan dan kasih.

Kekayaan di dalam iman kepada Tuhan Yesus Kristus tidak bergantung kepada harta benda. Karena itu tidak perlu menunggu memiliki banyak harta untuk dapat menjadi kaya di dalam Tuhan. Pun tidak perlu menunggu berkelimpahan harta untuk dapat melakukan kasih. Sebab mengasihi sesama hanya memerlukan kemurahan hati, bukan kelimpahan materi. Inilah yang terjadi pada jemaat Makedonia! Mereka berbagi bukan karena kaya secara materi. Mereka bahkan tengah berada dalam kesusahan yang besar. Namun kekayaan iman membuat mereka memiliki kemurahan hati yang luar biasa. Terlebih lagi pernyataan kasih Tuhan Yesus Kristus bagi kita. Dia rela menjadi miskin demi membuat kita kaya dalam kasih dan anugerah, dalam berkat-Nya dan dalam pengharapan akan hidup kekal. –EBL/www.renunganharian.net

MURAH HATI ADALAH TANDA SESEORANG BENAR-BENAR KAYA ROHANI.