Jus Buah

Saya tergolong penggemar minuman jus buah-buahan. Meski aneka buah boleh dicampur menjadi satu, namun kita tetap harus cakap memilih bahan-bahan campuran tersebut. Bukan asal campur. Mencampurkannya perlu memperhatikan aspek kecocokan rasanya, teksturnya (kadar kecairannya), warnanya serta komposisinya. Supaya diperoleh hasil perpaduan terbaik untuk dinikmati dan didapatkan manfaatnya.

Pergaulan sosial ialah percampuran aneka macam sifat, karakter, dan perilaku manusia. Percampuran antarmanusia itu pun berlangsung dalam kehidupan jemaat. Namun, secara terbuka, Paulus mengakui tidak semua orang merupakan “bahan campur” yang baik. Himeneus dan Filetus adalah orang-orang yang ucapan, ajaran, dan pengaruhnya amat buruk (ay. 17-18). Menularkan “penyakit”. Meracuni. Merusak iman. Jikalau sudah tak mungkin menegur mereka (ay. 24-26), maka jalan satu-satunya ialah menghindarinya (ay. 23). Ada saatnya perlu sikap tegas dalam memilih siapa yang patut diakrabi sebagai kawan bergaul kita (bdk. 1Tim 1:20, Tit. 3:10 dan Mzm. 1:1).

Sikap menarik diri dari pergaulan sosial lalu menjadi eksklusif, tentu keliru. Tetapi, itu bukan berarti kita membiarkan saja pergaulan buruk yang tanpa seleksi “meracuni” kita. Sebab pergaulan yang “beracun” akan menghambat pertumbuhan potensi-potensi baik kita. Sampai kapan pun, kita tetap membutuhkan “percampuran” dengan mereka yang justru mendorong tumbuhnya iman, kepribadian, dan perilaku sehat dalam diri kita. Jika mereka berperan sebaliknya? Jangan ragu untuk menyilakan mereka pergi dari kehidupan kita! –PAD/www.renunganharian.net

KITA PERLU BERHIKMAT UNTUK TAHU SIAPA YANG TANGANNYA
PATUT DIPEGANGI DAN SIAPA YANG SEBAIKNYA DIRELAKAN PERGI.