Jika Hatimu Beku

Pendeta Charles R. Swindoll pernah bercerita tentang kunjungannya ke kota tempat ia dibesarkan, yaitu Houston di negara bagian Texas. Bersama dengan istrinya, ia singgah di rumah dimana dulu ia sering menghabiskan waktunya. Tempat favoritnya ialah berada di dekat perapian-yang dindingnya terbentuk dari kayu yang berpahatkan tulisan besar: JIKA HATIMU BEKU, APIKU TIDAK DAPAT MENGHANGATKANNYA.

Jawaban Yesus atas pertanyaan murid-murid-Nya tentang tanda kesudahan dunia ini adalah permulaan dari khotbah-Nya mengenai akhir zaman (Mat. 24:4-25:46). Dia memberi peringatan agar para murid-Nya benar-benar mewaspadai kepalsuan atau penyesatan (ay. 4-5, 11) dan penyiksaan (ay. 9). Keduanya berpotensi melahirkan kemurtadan (ay. 10). Tetapi, yang tidak murtad bukan berarti aman dari gempuran. Ada gejala yang tak begitu kentara namun tak kurang berbahaya: kasih yang menjadi dingin (ay. 12). Hubungan yang tak lagi erat. Perasaan yang jauh dari hangat. Ayunan langkah yang berat. Pelayanan yang kehilangan semangat. Sikap yang enggan bertobat. Singkat kata, hati yang beku!

Hati yang beku memang berbahaya. Membuat kita enggan beranjak kemana-mana. Kewaspadaan berkurang. Kepekaan hilang. Kepedulian melayang. Pandangan kosong. Melihat sendiri pun tak membikin kita tergerak untuk menolong. Ucapan kita hambar. Kasih pun tak lagi mekar. Hanya firman Tuhan yang mampu menjadi “perapian” yang menghangatkannya. Maka, rawatlah kehangatan kasih kita kepada Tuhan dan sesama dengan rajin dan setia “berdiang” di samping nyala api firman-Nya. –PAD/www.renunganharian.net

JANGANLAH HENDAKNYA KERAJINANMU KENDOR,
BIARLAH ROHMU MENYALA-NYALA DAN LAYANILAH TUHAN.-ROMA 12:11