Jejak Kita di Jalan Itu

Karena Amsal 16:31 ini, ada saja orang yang menyimpulkan bahwa uban di kepala seorang lansia adalah tanda bahwa lansia itu telah hidup di jalan kebenaran, seolah-olah amsal itu menyatakan bahwa makin tua dan beruban seseorang, makin penuh dia dengan kebenaran: makin penuh hikmat, makin penuh kasih, makin sabar, makin toleran, dan makin baik lainnya.

Begitukah kenyataannya? Ternyata tidak. “Few people know how to be old, ” kata François VI, Duc de La Rochefoucauld. “Hanya sedikit orang yang mengerti bagaimana menjadi tua. Lepas dari pendapat Francois, kita tahu betapa memang tidak semua lansia telah menghidupi jalan kebenaran. Kita pun tahu, tak sedikit orang yang makin tua justru makin tertutup, makin otoriter, makin intoleran, makin menafikan kebenaran, dan tak segan melakukan hal-hal yang tidak semestinya. Tuwa tuwas, kata orang Jawa. Menjadi tua yang percuma.

Jadi, apa sebenarnya maksud nas ini?

Amsal 16:31 bukan sebuah pernyataan deskriptif (bahwa para lansia pasti menghidupi jalan kebenaran), melainkan sebuah nasihat tentang kualitas hidup yang seharusnya kita hidupi, yakni hidup di jalan kebenaran, agar-jika kita berusia lanjut-jejak kita di jalan kebenaran itu akan sebanyak uban di kepala kita. Jadi, ketika ayat ini berkata, “Rambut putih adalah mahkota yang indah, yang didapat pada jalan kebenaran, ” firman itu sedang menasihati kita semua, “Makin tua seseorang, hendaklah dari dirinya makin terpancar tanda-tanda bahwa ia senantiasa menghidupi jalan kebenaran.” –EE/www.renunganharian.net

MAKIN TUA SESEORANG, HENDAKLAH DARI DIRINYA MAKIN TERPANCAR
TANDA-TANDA BAHWA IA SENANTIASA MENGHIDUPI JALAN KEBENARAN.