Janganlah Cepat Berlalu

Dalam pesawat, persis di depan saya duduk seorang nenek. Beliau sedang menggunakan telepon pintarnya, dengan tampilan huruf berukuran besar sekali. Dari celah di antara dua kursi, terbacalah sepenggal obrolannya dengan sang suami. “Aku cinta padamu, ” tulis suaminya. Ia pun segera mengetik balasan, “Cintaku padamu lebih besar lagi.” Sambil menyudahi keusilan saya, hati ini pun berbisik, “Wah, mesranya nenek-kakek ini.”

Dalam Kitab Kejadian-terlepas dari ketidaksempurnaannya dalam membagi kasih kepada anak-anaknya (Kej. 25:28)-pasangan Ishak dan Ribka terbilang istimewa. Pertama, pada zamannya, mereka tergolong pasangan monogami yang langka. Kedua, cukup sering dinyatakan bagaimana perasaan yang menyala di hati mereka satu terhadap yang lain. Sejak perjumpaan pertama, perasaan cinta sudah membara di dada (Kej. 24:67). Atas kemandulan istrinya, Ishak memanjatkan doa yang kemudian terkabul (Kej. 25:21). Dan, dalam teks hari ini, kita membaca ungkapan kemesraan mereka sebagai suami istri (ay. 8)-yang selain ini hanya ada dalam syair Kitab Kidung Agung.

Meskipun bukan segala-galanya, namun kemesraan adalah salah satu karunia Tuhan bagi pernikahan. Perannya sungguh tidak kecil. Cinta di antara suami istri bisa terawat sekaligus terpantau oleh hadirnya kemesraan. Jangan biarkan lamanya usia pernikahan, rutinitas, dan beban hidup menghentikannya. Setiap hari selalu menawarkan kesempatan kepada pasangan untuk saling mengungkapkan cinta dengan bahasa kemesraan. Mengutip lirik sebuah lagu pop di tahun 90-an, “Kemesraan ini janganlah cepat berlalu.” –PAD/www.renunganharian.net

KEMESRAAN ITU KARUNIA TUHAN YANG BERFUNGSI SEPERTI PUPUK
PENYUBUR BAGI CINTA KASIH DI ANTARA SUAMI DAN ISTRI.