Ibu yang Hilang

Pendeta Greg Laurie memiliki ibu yang sejak muda telah kecanduan alkohol. Kehidupannya kacau. Bercerai. Menikah lagi. Bercerai lagi. Induk persoalannya tetap sama: keterikatannya pada alkohol. Bertahun-tahun Pendeta Laurie berusaha menasihati dan mendoakannya. Akhirnya-beberapa tahun sebelum meninggal, di usianya yang telah melampaui 70 tahun-ia menerima Kristus, bertobat, dan dilepaskan dari kecanduannya itu. Pendeta Laurie menyebut ibunya itu sebagai “Ibu yang hilang”.

Siapakah sosok “anak yang hilang” dalam perumpamaan Tuhan Yesus ini? Telunjuk kita pasti mengarah pada tokoh si anak bungsu. Namun, sebenarnya sifat perumpamaan ini memang lentur untuk “pertukaran peran”-sebab ia menyingkapkan kenyataan hidup yang memang kompleks serba tak disangka-sangka. Bahkan perumpamaan ini menyajikan pengamatan yang jeli: anak sulung yang tidak pergi ke mana-mana pun ternyata tak menghayati kedekatannya dengan sang ayah (ay. 28-31). Jadi, sesungguhnya, anak mana yang terhilang? Si bungsu? Si sulung? Atau serentak keduanya? Orang lain? Atau serentak diri kita sendiri selaku pembaca kisah ini?

Ketika kita menyangka ketersesatan ada pada pihak “sana”, serentak pesan dan pencerahannya pun berlaku untuk kita, pihak “sini”. Ya! Siapa saja, tanpa kecuali, bisa terhilang-hatinya menjauh dari Allah. Entah karena terjerat dosa, terbuai keangkuhan, terhanyut dalam arus rutinitas, terkepung masalah, terbutakan oleh nafsu, atau terjerumus dalam kekerasan hati. Jelasnya, panggilan untuk kembali kepada Sang Bapa pun berlaku bagi kita semua. –PAD/www.renunganharian.net

DARIPADA GIAT MENGUKUR KEIMANAN ORANG LAIN
LEBIH BAIK TEKUN MENCERMATI KEIMANAN DIRI SENDIRI.