Hanya Hamba

Bagi sebagian orang, motivasi yang melatarbelakangi ketekunan dalam mengerjakan suatu hal adalah adanya harapan untuk mendapatkan sesuatu. Tidak terkecuali dalam menjalani kehidupan sebagai anak Allah. Ambil saja contoh pengakuan seorang ibu yang mengatakan bahwa dorongan kuat yang membuatnya setia berbuat kebaikan adalah demi anak-anaknya. Akan tetapi, apa yang diajarkan Tuhan Yesus dalam ayat ini?

Menjadi bagian keluarga Allah adalah hak istimewa yang kita dapatkan sebagai orang percaya. Tentu ini sangat membahagiakan. Namun jangan lupa diri! Hidup kita menjadi milik Allah sepenuhnya karena kita telah ditebus-Nya dengan lunas. Ini berarti bahwa orang percaya merupakan hamba-hamba Allah. Sebagai hamba, sudah semestinya melakukan setiap kehendak Allah dengan kerendahan hati. Sekalipun pelayanan terbaik telah kita berikan, kita tetap harus mengakui posisi kita sebagai hamba yang tidak berguna, yang melakukan kehendak Allah karena kita sudah ditebus-Nya.

Jangan pernah berpikir bahwa kita memberi sumbangsih besar bagi Allah sehingga merasa diri layak mengharapkan imbalan (berkat). Sebaik apa pun tindakan kita, kita tidak menambah keuntungan bagi Allah. Allah tidak pernah berutang budi kepada kita. Pelayanan terbaik kita tidak menambah kesempurnaan Allah. Sebaliknya, utang budi kita kepada-Nya teramat besar sehingga tidak ada perbuatan baik yang cukup untuk membalas-Nya. Bahkan ketika seluruh hidup ini kita berikan bagi-Nya. –EBL/www.renunganharian.net

KITA HANYALAH HAMBA YANG TIDAK BERGUNA.
KITA HANYA MELAKUKAN APA YANG HARUS KITA LAKUKAN.