Hanya Dua Nada

“Ngik, ngik, ngok, ngok….” Saban sore, penjual arumanis lewat. Hanya dua nada itu yang terus-menerus ia mainkan. Dari ujung gang hingga lenyap di ujung lain. Dari pertama kali berjualan bertahun-tahun silam. Sepertinya, ia tak pernah tertarik mencoba nada-nada yang lain, apalagi menghasilkan alunan nada indah yang menjadi tujuan asli alat musik itu dibuat. Pembuatnya mungkin bakal gemas melihat karyanya hanya dipakai untuk menghasilkan dua nada saja.

Dalam salah satu mazmurnya, Daud bersyukur karena ia dibuat secara ajaib oleh Allah. Ajaib di sini bermakna mengagumkan, menakjubkan, luar biasa. Kita semua memang diciptakan secara luar biasa oleh Allah. Untuk apa? Tentunya supaya menjadi manusia-manusia luar biasa sehingga mampu meraih tujuan-tujuan luar biasa yang telah ditetapkan-Nya bagi setiap kita.

Apa jadinya jika seumur hidup kita “hanya memainkan dua nada” padahal dibekali kemampuan untuk menghasilkan lebih banyak? Saat ini, pasti ada potensi-potensi dalam diri kita yang belum pernah kita gali dan kembangkan secara maksimal. Apakah kita seperti si penjual arumanis, yang mungkin berpikir, “Tidak ada waktu untuk belajar hal baru, ” “Begini saja sudah cukup, ” “Apa manfaatnya bagi saya?” Jika Allah membekali kita dengan potensi atau talenta tertentu, Ia pasti punya tujuan untuk itu. Jika bukan untuk kita pribadi, bisa jadi Ia ingin kita memakainya untuk memberkati yang lain. Ada satu orang atau lebih di luar sana yang sedang menunggu. Ada Pencipta yang sedang menunggu kita memainkan nada-nada yang baru. –TAF/www.renunganharian.net

HIDUP KITA DIRANCANG MENGELUARKAN BANYAK NADA
JANGAN PUAS HANYA MENGHASILKAN DUA.