Ganti Kacamata

Menyaksikan fakta kasus-kasus pemakaman sesama atau saudara-saudara kita yang meninggal akibat terjangkit virus Covid-19, bagaimana kita tidak ikut larut dalam kesedihan? Kepergian mereka hanya bisa diratapi dari jauh. Jasad mereka diantar ke peristirahatan terakhir tanpa kehadiran keluarga, kerabat, sahabat dan pelayat. Tak pernah kita bayangkan sebelumnya ada kejadian yang seperti ini, bukan?

Perumpamaan Yesus tentang orang kaya dan Lazarus yang miskin dikemas dalam gaya kontras yang tajam. Setiap aspek pada diri keduanya bertentangan sekali. Termasuk ketika tiba saatnya kematian menjemput. Di manakah perbedaan tajamnya? Pemakaman, bukan? Orang kaya itu dikubur (ay. 23)-tentu dengan segala upacara penghormatan serta protokol pemakamannya. Lazarus? Perumpamaan Yesus membisu tentangnya. Sebaliknya, perumpamaan ini menonjolkan kenyataan bahwa para malaikat membawanya ke pangkuan Abraham (ay. 22). Cerita selanjutnya kita tahu. Keadaan keduanya di kekekalan amat kontras. Lazarus bahagia, orang kaya itu menderita sengsara (ay. 24). Selamanya. Artinya, dalam perspektif keabadian, penguburan bukan sebuah keutamaan.

Tentu bukan maksudnya pemakaman boleh diremehkan. Seluruh rangkaian upacara pemakaman tetap dibutuhkan, berarti, berharga, dan layak diselenggarakan manusia dari kalangan dan kebudayaan mana pun. Tetapi, apabila kondisi khusus tak diharapkan terjadi sehingga tak memungkinkannya terlaksana, kita harus memandangnya dari sisi kekekalan. Yang lebih utama adalah para kekasih yang telah pergi itu berada di rumah Bapa dalam kebahagiaan abadi. –PAD/www.renunganharian.net

JIKA KEPEDIHAN DUNIA FANA INI MENUTUP MATA KITA UNTUK MELIHAT KEBENARAN,
PAKAILAH KACAMATA KEHIDUPAN YANG KEKAL.