Faktor X

Ada ungkapan berbunyi, “Ketika burung hidup, ia makan ulat. Tetapi ketika burung mati, ia dimakan ulat.” Kehidupan ini tak tertebak sepenuhnya. Serba siapa sangka. Segalanya bisa terjadi, bahkan berlangsung terbalik. Yang tadinya di atas bisa meluncur jatuh ke bawah. Yang tadinya berkuasa bisa jadi tak berdaya. Tatkala faktor X berbicara, terjadilah yang tak disangka-sangka.

Perjanjian Baru mencatat, dinasti Herodes terkenal akan lembaran hitam kepongahan dan kekejiannya. Herodes Agung melakukan pembantaian bayi-bayi di masa kelahiran Yesus (Mat. 2:16-18). Salah seorang penggantinya, Herodes Antipas, memenggal kepala Yohanes Pembaptis (Mat. 14:10). Penerus berikutnya, Herodes Agripa I membunuh Yakobus (ay. 2) dan memenjarakan Petrus (ay. 3). Ketika Petrus dilepaskan Tuhan dari penjara, ia membunuh para pengawal penjara (ay. 19). Mendadak raja bengis ini mati di atas takhtanya dan Lukas memandang peristiwa itu sebagai intervensi Ilahi. Malaikat Tuhan menamparnya-ia mati dilahap cacing-cacing (ay. 21-23). Siapa sangka?

Ketika dunia sekuler menghitung adanya “faktor X” yang tak disangka-sangka, iman Kristen mengajak kita untuk mengakui intervensi Ilahi. Tuhan bekerja secara rahasia. Campur tangan-Nya tak terduga. Kendati kita tertindas, jangan menyerah padanya seolah-olah penindasan itu sudah nasib. Andai kita sedang berjaya, jauhilah takabur seakan-akan semua ada dalam kendali kita. Tidak! Sesuatu yang tak masuk dalam perhitungan manusia tetap bisa terjadi apabila Tuhan menghendaki. Akuilah dan hormatilah Dia dalam segala perilaku kita. –PAD/www.renunganharian.net

TUHAN ITU PAKAR PEMBUAT TEROBOSAN DAN KEJUTAN,
PERCAYALAH PADA CAMPUR TANGAN-NYA DALAM HIDUP KITA.