Faktor Usia

Sekalipun tidak mutlak, bagaimanapun juga, usia ikut memengaruhi kematangan seseorang. Pertimbangan-pertimbangannya. Kesabarannya. Daya tahannya menghadapi tantangan. Jangkauan pikirannya. Dan, yang pasti pengalaman dan “jam terbang”-nya. Hal ini sudah merupakan hukum alam yang mesti kita sadari dan maklumi.

Yohanes Markus ialah putra Maria, kawan Rasul Petrus (Kis. 12:12). Paulus dan Barnabas membawanya serta dalam perjalanan pekabaran injil yang pertama (Kis. 12:25). Tetapi, di tengah jalan ia meninggalkan kedua seniornya itu, pulang ke Yerusalem (Kis. 13:13). Paulus kecewa dan menolak untuk mengajaknya lagi dalam perjalanan kedua, sehingga timbul konflik di antara kedua penginjil itu (Kis. 15:36-40). Namun, di kemudian hari, terbukti dirinya menjadi kian dewasa. Dalam pemenjaraan Paulus yang pertama di kota Roma, ia mendampingi sang rasul (Kol. 4:10). Dan, dalam pemenjaraannya yang kedua-menjelang hukuman mati dijatuhkan-Paulus merindukan kehadirannya yang diakui sebagai “penting bagiku” (ay. 11). Artinya, Paulus mengakui terjadinya perkembangan kematangan pada diri Yohanes Markus.

Menengok ke masa silam, saya sering menemukan sikap-sikap, keputusan-keputusan, dan tindakan-tindakan yang saya sesali karena terkesan memalukan, bodoh dan ceroboh. Tak dapat dipungkiri faktor usia memang berbicara. Syukurlah, Tuhan (juga melalui banyak orang) sudah rela bersabar untuk saya. Saya pun suka mengingatkan diri agar juga bersabar apabila menghadapi kekecewaan pada orang-orang yang masih sedang Tuhan bentuk kematangannya seiring laju sang waktu. –PAD/www.renunganharian.net

DEMI MENUAI BUAH KEMATANGAN SESEORANG, WAJAR JIKA KITA
MEMBERI WAKTU KEPADANYA UNTUK BERTUMBUH.