Egois dan Narsis

Dalam bahasa kita sekarang, tokoh Haman dalam kitab Ester boleh dibilang seorang narsis dan egois. Betapa tidak? Sebagai pejabat ia haus kuasa, gila hormat, dan selalu memakai wewenangnya untuk memenuhi kepentingan pribadi. Sebagai pribadi ia gemar memamerkan diri, suka dipuja, dan cuma mau tahu tentang dirinya sendiri. Pusat perhatiannya ialah diri sendiri. Kebanggaannya ialah berkata, “Tiada yang lain, kecuali aku.”

Namun egoisme dan narsisisme bukannya tanpa ongkos. Celakanya di sini: manfaatnya hanya bagi diri sendiri, tetapi ongkosnya juga dipikul oleh pihak lain. Kehidupan Haman adalah contoh dan buktinya. Akhirnya bukan cuma dirinya, melainkan seluruh keluarganya binasa (Est. 9:12-13). Pun akibat ulahnya terjadilah pertumpahan darah di seluruh wilayah negeri jajahan Persia dan puluhan ribu nyawa melayang (Est. 9:16). Ironis sekaligus tragis, bukan?

Induk dari banyak persoalan, keributan, bahkan bencana di dunia ini adalah pribadi-pribadi narsistik yang egois, yang tahunya hanya diri dan ambisi pribadi. Tuhan sungguh ingin hidup kita memberkati sekitar, bukan menyusahkan orang. Membawa keteduhan, bukan kegaduhan. Menghadirkan sejahtera, bukan bencana. Membuat orang lain bahagia, bukan menderita. Maka, jauhilah egoisme dan narsisisme. –PAD/www.renunganharian.net

LILIN YANG TAK SEDIA UNTUK MELELEH TIDAK AKAN PERNAH BERSINAR, HATI YANG BEKU OLEH EGOISME TAK AKAN PERNAH MEMBERI MANFAAT BAGI SEKITAR.