Ego dan Ketulusan

Kemerdekaan dalam hidup adalah dambaan setiap orang. Terlebih lagi bagi mereka yang hidupnya terbelenggu dan berbeban berat, tentulah sangat mendambakan kemerdekaan dalam hidup mereka. Tetapi kemerdekaan tidak bisa diartikan hanya sekadar terlepas dan terbebas dari masalah atau penjajahan semata. Karena kemerdekaan haruslah dimaknai secara menyeluruh, dalam tubuh dan hati kita.

Paulus mengingatkan jemaat Roma supaya waspada dan menghindari orang-orang munafik yang hanya mencari keuntungan diri mereka sendiri dengan menipu para jemaat. Terhadap orang-orang munafik tersebut, Paulus menegaskan bahwa sebenarnya mereka tidak melayani Kristus, sekalipun menggunakan kata-kata yang manis dan muluk-muluk, tetapi justru menginginkan orang lain untuk melayani mereka. Artinya, Paulus menunjukkan bahwa melalui keegoisan dan kemunafikan tersebut, mereka berusaha untuk menjajah dan menindas para jemaat. Dalam ketulusan hati para jemaat, Paulus pun hendak mengajak mereka supaya hanya mengikuti ajaran Kristus serta melayani-Nya saja, bukan mendengarkan dan melayani manusia. Karena hanya di dalam Kristus sajalah maka mereka mendapatkan kemerdekaan, dalam tubuh dan hati mereka, sehingga ketulusan hati mereka terbebas dari berbagai kepentingan pribadi.

Kehidupan yang merdeka adalah kehidupan yang terbebas dari kepentingan pribadi. Untuk itu, kita diajak untuk memerdekakan hati kita, untuk dapat menjalani kehidupan bersama dengan ketulusan hati, sebagai wujud melayani Dia. –ZDP/www.renunganharian.net

PENJAJAHAN ADALAH WUJUD DARI KEEGOISAN,
TETAPI KETULUSAN HATI MENUNJUKKAN KEMERDEKAAN.