Doa Pencitraan

Tentu saja berdoa itu baik. Sayangnya, berdoa merupakan salah satu tindakan yang paling banyak disalahgunakan orang. Termasuk ketika orang memakainya sebagai alat untuk membenarkan diri di depan khalayak. Secara sosial, mereka membangun pencitraan melalui tindakan religius ini-agar disangka sebagai orang saleh-sehingga perbuatannya tidak perlu dipertanyakan lagi. Artinya, tatkala mereka berbuat jahat pun, citra dan status kesalehan itu diharapkan bakal “menutupi” kebusukan mereka.

Tuhan Yesus menyinggung gejala serupa dalam khotbah-Nya di atas bukit. Golongan masyarakat yang disapa Farisi menerapkan praktik berdoa yang seperti itu. Tujuan dari ritual doa mereka adalah supaya dilihat orang (ay. 5). Mereka mau membangun kesan orang atas diri mereka sebagai sosok religius. Taat beribadah. Saleh. Bermoral. Setelah pencitraan itu berhasil, justru mereka tidak takut lagi melakukan apa pun- sebab perbuatan mereka apa pun akan dijustifikasi olehnya. Dari sinilah lahir ketidakselarasan antara kesan dengan kenyataan: kemunafikan.

Manusia cenderung menutupi sesuatu yang buruk pada dirinya. Dalam batas tertentu wajar, siapa yang tidak? Tetapi menutupi kejahatan dengan bungkus pencitraan yang bersifat keagamaan adalah suatu bahaya yang serius. Kita akan dibuatnya terlena dan merasa aman ketika melakukan yang jahat karena merasa “terlindungi” oleh kesalehan yang kita bangun di mata manusia. Ujungnya, kita tidak merasa risih lagi oleh keburukan maupun kemunafikan kita sendiri. Bukankah itu berbahaya? –PAD/www.renunganharian.net

APA GUNANYA TAMPAK BENAR DI HADAPAN MANUSIA
JIKA KITA TIDAK DIBENARKAN OLEH ALLAH?