Doa atau Mantra?

Dalam bukunya, Prayer, Philip Yancey menyatakan bahwa kaum ateis pun berdoa. Partai Komunis Rusia memasang tulisan di bawah potret pemimpin besar mereka, Joseph Stalin, “Jika kamu menghadapi kesukaran dalam pekerjaanmu, atau mendadak ragu pada kemampuanmu, ingatlah akan Stalin-maka kepercayaan dirimu akan pulih. Jika kamu menjadi kelelahan yang tidak pada tempatnya, ingatlah akan Stalin-maka pekerjaanmu akan tetap lancar. Jika kamu perlu mengambil keputusan yang benar, ingatlah Stalin-dan kamu akan berhasil.”

Menurut Tuhan Yesus, doa bukan monopoli kaum Farisi saja. Mereka yang “tidak mengenal Allah” pun berdoa (ay. 7). Bagi-Nya, doa dari kedua golongan ini tak patut ditiru. Yang pertama menjadikan doa sebagai alat pembenaran diri (ay. 5)-justifikasi. Yang kedua memakai doa sebagai alat pemaksaan kehendak sendiri- manipulasi. Golongan kedua ini gemar mencari metode berdoa yang dianggap manjur. Mereka memandang ucapan doa sebagai mantra magis. Kata-kata bertuah. Semakin seseorang menguasainya dan sering mengulangnya, semakin berkhasiatlah doa itu. Perhatian utama ada pada doa, bukan pada Tuhan.

Manusia cenderung memperlakukan doa sebagai sarana pemenuhan kebutuhan. Makin butuh, makin kencang berdoa. Ujungnya, manusia bukan percaya kepada Tuhan melainkan memercayai doa-tak soal dialamatkan kepada siapa. Yang dimuliakan ialah kemanjuran kuasa doa, bukan kuasa Tuhan. Yang dipedulikan ialah keinginannya, bukan kehendak Tuhan. Dalam doa seperti itu tidak ada Tuhan, sebab Dia memang tak dikenal. –PAD/www.renunganharian.net

PERBEDAAN DOA DENGAN MANTRA ADA DI SINI:
PENGENALAN AKAN ALLAH.