Dipicu Satu Nyanyian

Kisah tentang kedengkian Saul kepada Daud sudah lama saya dengar. Namun, suatu hari ketika membaca dengan perlahan kisahnya, saya terkejut karena Saul ternyata membenci Daud hanya karena mendengar satu nyanyian. Isi nyanyian dari para perempuan yang membandingkan prestasi perang Saul dan Daud, ternyata menyebalkan hati Saul (ay. 8). Sejak itu pula, Saul selalu mendengki Daud sampai akhir hayatnya.

Apa yang menjadi masalah Saul? Ia sukar menerima ketika prestasinya dalam peperangan sepertinya diabaikan, karena Daud dianggap lebih hebat dibandingkan dengan dirinya. Padahal faktanya tidak demikian. Tak ada seorang pun mencela atau mengabaikan jasanya. Saul hanya gagal membendung iri hatinya, sekaligus memiliki kekhawatiran berlebihan terkait statusnya sebagai raja. Ia khawatir Daud akan menggantikannya sebagai raja Israel (ay. 8). Pikiran paranoid seperti ini tanpa sadar terkadang juga menghinggapi kita. Ketika kita mendengar rekan kerja sekantor mendapat pujian melebihi pujian yang kita terima, apakah hati kita bisa tetap tenang? Ketika tanpa sadar pasangan kita memuji orang lain, sedangkan kita tidak bisa melakukan hal itu dengan baik, apakah pikiran kita tetap positif?

Ketika hal-hal di atas terjadi, kita perlu berhati-hati karena “virus kedengkian” yang menguasai Saul, berpotensi menguasai diri kita pula. Abaikan saja hal tersebut dan berfokuslah pada sesuatu yang dapat kita lakukan dengan sangat baik. Masakan jika kita mampu menjaga konsistensi dalam hal prestasi, tak ada orang yang menghargai kita? Tak mungkin! –GHJ/www.renunganharian.net

KETIKA KEDENGKIAN MENGUASAI, PIKIRAN
DAN TINDAKAN PUN DAPAT TAK TERKENDALI.