Dimulai dari Keluarga

Tuhan memberi perintah kepada Gideon untuk merubuhkan mezbah Baal milik Yoas, ayahnya. Dia harus mengambil sapi jantan ayahnya untuk dipersembahkan, memotong tiang penghormatan Dewa Asyera yang dibangun ayahnya, dan membangun mezbah bagi Tuhan.

Gideon melakukannya pada malam hari karena takut. Takut pada keluarga, juga pada penduduk kota. Benar, esoknya ketika orang melihat mezbah itu rubuh, mereka datang kepada Yoas, dan ada yang memberitahukan bahwa Gideonlah pelakunya. Alih-alih marah, Yoas berkata, “Jika Baal itu allah, biarlah ia berjuang membela dirinya sendiri, setelah mezbahnya dirobohkan orang.”

Rasa takut mungkin menunjukkan lemahnya iman Gideon. Meskipun demikian, ia memilih melakukan kehendak Allah sekalipun harus berhadapan dengan ayahnya.

Saat ini, banyak orang beriman, tetapi takut melakukan pekerjaan Tuhan. Takut dianggap melanggar tradisi yang sudah biasa dilakukan banyak orang. Padahal, tradisi itu menyimpang dari kehendak Tuhan. Di tengah lingkungan kerja yang korup, misalnya, orang memilih ikut korupsi daripada dipecat. Padahal, pembebasan Tuhan dimulai dengan membebaskan diri dari perbudakan, termasuk pengaruh berhala modern-karier, teknologi, uang, fesyen, kekuasaan, dan sebagainya.

Sudahkah kita mengandalkan pertolongan kuasa Tuhan untuk memulai perubahan di tengah keluarga? Bukan dengan melawan orang lain, melainkan dengan menentang ketidakbenaran dan mendorong orang untuk bertobat. –EBL/www.renunganharian.net

KEBERHASILAN DIMULAI DENGAN BERANI BERIMAN DAN MEMPERTARUHKAN DIRI DI TANGAN TUHAN.