Dibonceng Sepeda Motor

Gambar atau foto itu membuat saya tersenyum. Bernada jenaka sekaligus menyapa. Khususnya di hari-hari tatkala semua orang mengajukan pertanyaan-entah terucap atau hanya terbisik dalam desah lirih-“Sampai kapan badai ini berlalu?” “Sampai kapan bencana wabah ini berakhir?”

Kehidupan ini banyak bersesuaian dengan perjalanan Israel di gurun sesudah meninggalkan Mesir. Menyimpan segudang rahasia yang mengundang seribu tanya. Bahkan tak jarang lintasannya tak seperti yang kita sangka. Berdasarkan hikmat-Nya, Tuhan membuat kita layaknya menempuh jalan berputar (ay. 18). Serasa tak kunjung tiba menemui ujungnya. Tetapi, berita baiknya ialah Tuhan berjalan bersama, bahkan di depan kita. Bahkan, pimpinan-Nya itu berlangsung harian. Melalui “tiang awan” dan “tiang api” sebagai tanda penyertaan-Nya siang dan malam (ay. 21). Sehari ke sehari. Supaya umat-Nya belajar untuk percaya dan bersandar pada pimpinan-Nya.

Gambar tadi melukiskan sisi belakang dari seorang anak kecil sedang dibonceng ayahnya dengan sepeda motor. Masalahnya, ayahnya berbadan amat besar. Punggung lebarnya membuat pandangan anak itu ke depan tertutup sama sekali. Terpampang tulisan di situ, “Walau kau tak melihat yang di depan, percaya saja pada si pengemudi.” Pesannya sungguh benar! Kendati kita belum tahu segala yang terjadi di depan-kapan berakhirnya jalan sukar dan berliku ini-syukurlah itu bukan perkara utama. Sebab, yang utama ialah siapa Pengemudi hidup kita! Percayalah pada-Nya! –PAD/www.renunganharian.net

DALAM TUHAN, PIMPINAN-NYA SETIAP HARI ITU CUKUP BAGI KITA.