Di Balik Kekalahan

Kita membaca kisah pertempuran yang melibatkan Raja Saul, anak-anaknya, dan para tentaranya melawan bangsa Filistin. Pertempuran itu pun berakhir memalukan untuk tentara-tentara Israel. Bisa jadi peristiwa kekalahan itu adalah tragedi memalukan yang pernah terjadi dalam sejarah Israel. Ya, hari itu tentara-tentara Filistin menewaskan seluruh anak-anak Saul. Dan karena tidak ingin dipermalukan, Raja Saul membunuh dirinya sendiri dengan menikamkan pedang di tubuhnya. Tragedi itu diakhiri dengan pemenggalan kepala Saul dan orang-orang Filistin menancapkannya di rumah Dagon!

Mengapa Tuhan membiarkan umat-Nya dipermalukan sedemikian rupa oleh musuh-musuhnya? Kitab Tawarikh pun dengan jelas menulis bahwa Tuhanlah yang membunuh Saul (ay. 14). Dan semua itu sebagai akibat dari ketidaksetiaan Saul kepada firman Tuhan. Saul bertindak tidak setia dengan membakar sendiri korban bakaran dan nekat meminta petunjuk arwah. Berbagai ketidaksetiaan Saul itulah yang pada akhirnya mengakibatkan tragedi yang mengerikan itu.

Kesetiaan untuk mengasihi Tuhan adalah kehendak-Nya bagi hidup kita. Kasih kita kepada Tuhan kita tunjukkan dengan kesetiaan untuk melakukan firman-Nya. Kesetiaan kepada-Nya kita tunjukkan dengan tetap percaya dan mengandalkan kekuatan-Nya di tengah situasi yang berat sekalipun. Pada akhirnya, situasilah yang akan menguji kesetiaan kita kepada-Nya. Ketika tekanan-tekanan hebat mendesak kita, apakah kita akan tetap berlaku setia kepada-Nya atau justru mendukakan hati-Nya? –SYS/www.renunganharian.net

KALAHNYA KITA DALAM PERJALANAN HIDUP BISA JADI AKIBAT
KARENA KITA TIDAK LAGI BERLAKU SETIA KEPADA-NYA.