Dari Generasi ke Generasi

Banyak orang tua yang menjalani kehidupan Kristen yang baik. Mereka rajin ke gereja, mendukung berbagai kegiatan pelayanan, serta berbuat baik kepada banyak orang. Tetapi di sisi lain, mereka membiarkan anak-anak mereka menjalani kehidupan yang sangat berbeda dengan apa yang mereka imani. Atas nama demokrasi dalam keluarga, mereka membiarkan anak-anak mereka mencari jalannya sendiri, asalkan tidak melakukan perbuatan kriminal. Mereka tidak mengajarkan tentang iman mereka kepada anak-anaknya.

Di masa Nabi Yoel, wabah belalang yang mengerikan merusak negeri Israel sebagai tanda penghukuman dan murka Allah atas ketidaksetiaan mereka. Kawanan belalang itu memakan habis tanaman mereka, sehingga bencana kelaparan menimpa mereka. Namun sebenarnya, Tuhan tidak ingin membinasakan mereka. Dia ingin mereka kembali kepada-Nya. Dia memerintahkan agar umat-Nya menceritakan kisah itu kepada anak-anak mereka, demikian juga kepada generasi-generasi yang kemudian, agar mereka belajar menghormati Tuhan serta tetap setia kepada-Nya.

Dalam Perjanjian Baru, setiap orang percaya juga diberi tanggung jawab untuk memberitakan perbuatan-perbuatan Allah kepada orang lain (misalnya 1Ptr. 2:9). Tentunya kita tidak memaksakan kehendak kepada mereka, melainkan memberitakan dengan kasih. Ini termasuk kepada anak-anak kita secara jasmani. Bahkan jangkauannya lebih luas lagi, yakni kepada semua orang. Sebab Tuhan ingin Dia dikenal bukan hanya oleh satu generasi, melainkan sepanjang masa, dari generasi ke generasi. –HT/www.renunganharian.net

KITA BERTANGGUNG JAWAB MENAATI TUHAN DI MASA KINI
SERTA MENGAJARKAN KEBENARAN-NYA KEPADA GENERASI YANG AKAN DATANG.